25/2013
Suara mesjid subuh ini membangunkan dari tidur. aku kembali dari persembunyian akan kenyataan hidup yang baru saja menjatuhkan langit ke atas pundakku. cita-cita yang ku nantikan, ku usahakan dan ku perjuangkan senin malam kemarin telah gagal ku raih. terdiam, perlahan kuangkat pandanganku ke langit-langit (plafon) kamar, menembus, jauh pandanganku terlempar ke langit. dari dalam hati kusuarakan pertanyaan, bagaimana akan ku jalani hidup ini pengcipta???????
suara azhan berkumandang, perlahan badanku kuangkat, duduk diatas tempat tidur kemudian berdiri menuju WC yang di pintunya tertempel kata "ruang sidang". melihat tulisan tersebut, akupun berjalan dengan lembut agar tak menimbulkan suara ribut yang bisa mengganggu proses persidangan. ku buka pintu WC tersebut, kuhentikan khayan tentang ruang sidang, segera ku ambil wudhu. setelah selesai wudhu, kulihat wajahku di cermin dan mataku terasa mulai merasakan pedis, sadar bahwa tak lama lagi air mata akan jatuh maka ku ambil napas yang panjang dan ku alihkan perasaan sedih itu dengan segera berjalan ke arah pintu rumah.
diluar ternyata masih udara masih dingin jadi aku pun bergegas menuju mesjid dan melaksanakan kewajiban.
diakhir doa yang dipimpin imam setelah sholat tadi, pertanyaan itu kembali terlontar dari hati, bagaiman akan ku jalani hidup ini pengcipta???????
dirumah ku seduh kopi saset, duduk didepan TV ditemani sebatang rokok surya. berita mulai lalulalang, baik politik, kriminal ataupun olah raga. mataku fokus ke TV tapi diperhatianku yang sebenarnya hanya ke 1 hal, mencari jawaban atas pertanyaanku sendiri.
cahaya mulai muncul, menandakan pergantian shiff malam dengan pagi telah dimulai. akupun berdiri mengambil handuk dan kembali ke WC untuk mandi. singkat cerita, pakian rapih (seragam kantor) telah terpasang dengan baik. suara motor terdengar di parkiran rumah, tak lama setelahnya pintu rumah terbuka dan "senyum temanku, bukan, dia sahabatku, bukan, dia saudaraku, bukan, dia melibihi semuanya".
dia telah kembali dari warkop memainkan kesenangannya bersama keluarganya yang kebetulan beberapa hari ini berkunjung ke makassar.
perbincangan dia (Z), saya dan keluarnya (W) ;
(W) : Laparka ini, pergi dulu beli nasi kuning "sembari mengeluarkan uang"(Z) : kenapa tidak dari tadi, kan tempatnya dilewati(W) : ...????!!!!(Z) : mana uangnya, sini saya pergisaya: empat saja beli, tidak laparka saya.(Z) : kenapa bisa?saya: sudahka minum kopi.(Z) : ya sudah, sebentar saja belinya, karena kauji ini mau berangkat kantor jadi mauka buru-buru pergi beli(W) : iyya, dari tadi malam ini saya tawari makan, katanya kenyang terus ???(Z) : ...???saya: ...dalam hati; nafsu makanku tidak ada pagi ini, dia terbang bersama cita-cita dan harapanku.
07.10 Wita
kunyalakan mesin motor, perlahan kutinggalkan rumah menuju arah kantor. sepanjang jalan yang ada didalam pikiranku masih soal cita-cita yang telah gagal teraih senin kemarin, air mataku pun jatuh dan kubiarkan saja karena kalau pun dilihat orang lain, palingan mereka berpikir bahwa itu disebabkan oleh angin. secara sederhana cita-cita itu adalah kembali kedalam kelas untuk belajar. namun, disisi pemberat lainnya adalah pada kesempatan kemarin itu, saya dan dia bisa kembali secara bersamaan tapi kenyataannya adalah dia kembali duluan dan saya masih diatas motor menuju tempat kerja. sebenarnya saya sangat bahagia melihatnya dijalur yang sama, bahkan yang kudoakan sebelum senin kemarin itu adalah semoga dia dan saya lulus, jadi nantinya kami bisa berangkat, pulang, belajar, makan, tidur dan sebagainya bersama.
kini rahasia pagi itu tertulis di dalam blog yang baru kubuat ini, karena aku tak lagi menemukan pundak untuk bersandar.
lakukanlah yang terbaik untuk cita-citamu, jangan seperti aku yang gagal
Tidak ada komentar:
Posting Komentar